Sejak Kurikulum Merdeka diterapkan, pekerjaan menyusun rapor berubah bentuk. Nilai angka bukan lagi keluaran utama; yang dinilai adalah ketercapaian tujuan pembelajaran, dan hasilnya harus disampaikan sebagai deskripsi yang bermakna bagi orang tua. Di sinilah aplikasi e-Rapor Kurikulum Merdeka menentukan apakah pekerjaan guru menjadi lebih ringan atau justru bertambah.
Apa yang berubah dari rapor sebelumnya
Tiga perubahan yang paling terasa bagi guru:
- Asesmen formatif dan sumatif dibedakan perannya. Asesmen formatif berjalan selama proses pembelajaran untuk memperbaiki cara mengajar, sementara asesmen sumatif menyimpulkan ketercapaian di akhir lingkup materi. Keduanya tidak dijumlahkan begitu saja menjadi satu angka.
- Penilaian bertumpu pada tujuan pembelajaran. Capaian pembelajaran diturunkan menjadi tujuan pembelajaran dan disusun dalam alur tujuan pembelajaran. Rapor melaporkan ketercapaian tujuan tersebut, bukan sekadar rata-rata ulangan.
- Rapor memuat deskripsi, bukan hanya angka. Setiap mata pelajaran perlu narasi yang menjelaskan apa yang sudah dikuasai murid dan apa yang masih perlu dikuatkan.
Perubahan ketiga inilah yang paling menyita waktu bila dikerjakan manual. Seorang guru mata pelajaran dengan beberapa rombongan belajar harus menulis ratusan deskripsi setiap semester.
Yang harus dikerjakan aplikasi e-Rapor
Menyimpan tujuan pembelajaran sebagai data, bukan teks bebas
Ini pembeda paling penting. Jika tujuan pembelajaran hanya diketik sebagai teks bebas di kolom catatan, aplikasi tidak bisa membantu apa pun. Bila tersimpan terstruktur, aplikasi dapat menyusun rancangan deskripsi capaian secara otomatis berdasarkan tujuan mana yang sudah tercapai dan mana yang belum.
Menyusun draf deskripsi yang bisa disunting
Yang dibutuhkan guru adalah rancangan awal, bukan kalimat final yang dipaksakan. Aplikasi yang baik menghasilkan draf deskripsi per murid dari data asesmen, lalu membiarkan guru menyuntingnya. Guru tetap memegang kendali penilaian; yang dihapus hanyalah pekerjaan mengetik ulang.
Memisahkan bobot formatif dan sumatif
Sekolah punya kebijakan berbeda mengenai porsi masing-masing asesmen. Aplikasi harus bisa mengikuti kebijakan sekolah, bukan memaksakan satu rumus tetap yang tidak bisa diubah.
Menangani Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
P5 dilaporkan terpisah dari rapor mata pelajaran, dengan dimensi dan capaian tersendiri. Banyak aplikasi hanya menyediakan kolom catatan untuk ini, sehingga koordinator projek tetap bekerja dengan lembar sebar terpisah.
Mengambil kehadiran secara otomatis
Rekap ketidakhadiran di rapor semestinya diambil langsung dari data kehadiran harian, bukan diketik ulang wali kelas. Bila sekolah sudah memakai absensi digital, angka ini seharusnya muncul sendiri.
Kesalahan umum saat memilih
- Menilai dari tampilan cetakan. Format cetak mudah disesuaikan; yang sulit diperbaiki adalah cara aplikasi menyimpan data penilaian. Periksa bagian itu lebih dulu.
- Tidak menguji dengan data satu kelas penuh. Aplikasi yang lancar untuk lima murid contoh bisa melambat drastis pada satu angkatan. Minta uji coba dengan jumlah data yang sebenarnya.
- Melupakan alur verifikasi. Rapor melewati guru mata pelajaran, wali kelas, lalu kepala sekolah. Jika aplikasi tidak mengenal alur ini, verifikasi tetap berjalan lewat pesan pribadi dan berkas yang dikirim bolak-balik.
- Mengabaikan penguncian periode. Setelah rapor dibagikan, nilai tidak boleh berubah diam-diam. Harus ada mekanisme kunci dan jejak perubahan bila ada perbaikan resmi.
- Tidak memeriksa ekspor. Pastikan sekolah bisa mengunduh seluruh data nilai dalam format yang terbaca umum, untuk arsip maupun untuk berpindah sistem.
Persiapan sebelum semester berjalan
Menyiapkan e-Rapor di tengah semester hampir selalu berantakan, karena sebagian penilaian sudah telanjur berjalan dengan cara lama. Urutan yang lebih tenang:
- Pastikan data murid dan pembagian rombongan belajar sudah final.
- Masukkan struktur kurikulum: mata pelajaran, pembagian tugas mengajar, dan tujuan pembelajaran per mata pelajaran.
- Sepakati kebijakan bobot asesmen di tingkat sekolah, lalu masukkan satu kali sebagai pengaturan.
- Latih wali kelas pada alur verifikasi, bukan hanya pada cara mengisi nilai.
- Lakukan satu kali cetak percobaan di awal semester, jangan menunggu minggu pembagian rapor.
Hubungannya dengan modul lain
e-Rapor jarang berdiri sendiri. Ia mengambil data murid dari data induk, kehadiran dari modul kehadiran, dan pembagian tugas mengajar dari modul kepegawaian. Karena itu, memilih aplikasi e-Rapor terpisah dari sistem lain sering berakhir dengan pekerjaan menyalin data antar sistem setiap semester. Pertimbangannya dibahas lebih luas di panduan sistem informasi manajemen sekolah.
Untuk melihat langsung bagaimana alur penilaian sampai cetak rapor berjalan dalam satu sistem, Anda bisa mencoba dengan data sekolah Anda sendiri atau meminta sesi demo terpandu.
Profil penulis
Ditulis oleh tim
Tim Scholedu
Tim Produk & Implementasi
Tim produk dan implementasi Scholedu di PT Catalyst Digital Nusantara, Pringsewu, Lampung. Artikel di blog ini ditulis berdasarkan pendampingan langsung sekolah saat memindahkan absensi, penilaian, penerimaan murid baru, dan administrasi keuangan dari proses manual ke sistem digital.
Bidang: Sistem informasi sekolah, e-Rapor Kurikulum Merdeka, SPMB/PPDB online, administrasi keuangan sekolah, integrasi Dapodik


